Jumat, 04 November 2016



Menembus Awan
Karya : Rina Eriyanti

Entahlah, seharusnya kehidupan ini kita serahkan pada takdir. Takdir tak selalu sama dengan apa yang kita impikan. Terkadang jauh dari keinginan dan membuat kita jatuh ke dalam lubang penderitaan. Sudah banyak mengalami nasib tragedi yang memeras air mata, seperti yang terjadi pada diri Devan seorang anak pengidap penyakit Disleksia yang selalu dianggap bodoh oleh semua orang bahkan oleh ayahnya sendiri pun.
Bagi ayahnya devan itu bodoh karena nilai nilai nya tak pernah bisa menandingi nilai davin sang adik kembar. Walaupun sang ayah selalu keras dalam mendidiknya tapi tak pernah terbesit dihati davin untuk membenci sang ayah, bagaimanapun ia sudah berjanji dengan almarhumah ibunya untuk tidak pernah melawan ayahnya.
“assalamu alaikum “ ucap devan pelan
“waalaikum salam, dari mana saja kamu sudah malam begini baru pulang” ucap ayahnya
“aku habis dari rumah teman pa” jawab davin seadanya
“ya sudah kamu cepat ganti baju setelah itu kita makan malam”
“iya pah”
Setelah sang ayah pergi,devan pun menongok ke belakang
“bahkan ayah tidak menanyakan bagaimana hasil nilai uts semesterku, berbeda ketika ayah dengan davin ia selalu begitu antusias melihat nilai davin”

***
Ketika aku sampai di meja makan aku menyerahkan nilai rapot uts semesterku kepada ayah namun ayah hanya menengoknya sebentar kemudian berpaling melihat nilai rapot uts semester davin dengan penuh rasa bangga.
“ayah kali ini aku mendapat nilai yang lumayan bagus, walaupun rata-rata 7 tapi kali ini tidak ada nilai merah dirapot ku” kata devan berhati-hati
“memang biasanya begitukan nilai nilai mu tak pernah bisa dibangggakan, seharusnya kamu itu harus rajin belajar supaya nilai mu bisa seperti davin yang bisa mendapatkan nilai sempurna hampir disemua mata pelajaran” ucap ayah nya
“iya yah aku akan berusaha keras” ucap davin
“davin ayah sudah mencarikan kamu universitas yang bagus untuk kamu, nanti kamu tinggal pilih universitas mana yang mau kamu ambil” ucap ayah sambil tersenyum
“terima kasih yah” kata davin
“dan untuk kamu devan ayah ngak tahu lagi harus seperti apa sama kamu, kalau kamu masih berkeinginan unyuk kuliah ayah harap kamu bisa mengubah nilai nilai kamu seperti davin Kalau tidak jangan harap ayah mau menguliahkan kamu, mengerti “
“mengerti ayah” kata devan

****
“kenapa kamu belum bisa juga menerapkan apa yang ayah sudah ajarkan  devan, sudah seminggu ayah mengajarkan mu membaca tapi kamu  belum bisa juga selancar adik kamu. Kamu ini dengar tidak apa yang ayah katakan” ucap ayah nya sambil berteriak
“iya ayah, aku sudah berusaha tapi aku tetap tidak bisa “ ucap devan kecil terbata-bata sambil menangis
“bahkan berbicara pun kamu masih sangat lamban” kata ayahnya kasar
Devan kecil hanya bisa menunduk tanpa berani menatap sang ayah.
“dengar ya devan kalau kamu masih belum bisa menyelesaikan bacaan ini jangan harap ayah mau mengajak kamu pergi dufan weekend nanti, sudah sana kekamar selesaikan buku cerita yang ayah kasih semalam”
Devan kecil pun hanya bisa menangis mengingat kejadian yang tadi dimana sang ayah memarahinya hanya karena ia belum bisa menamatkan buku bacaannya tersebut, sungguh tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan dan penderitaan yang  devan alami dalam menghabiskan buku bacaan tersebut disaat malam hari ketika semua orang tengah terlelap dalam tidur, Devan terus berusaha membaca buku tersebut namun nihil ia masih saja sulit untuk mengingat dan mengeja kata per kata dalam buku tersebut sehingga sering membuatnya muntah bahkan pingsan dimalam hari.
Tidak ada satu pun keluarga nya yang menyadari bahwa devan sebenarnya tidak bodoh akan tetapi ia mengidap penyakit Disleksia yang membuat ia lamban dalam membaca,menulis maupun berbicara. Devan sendiri pun baru mengetahuinya ketika ia sedang melakukan tes kesehatan masuk sekolah menengah pertama namun ia hanya memendamnya sendiri.
Anak penderita Disleksia bukanlah karena keterbelakangan mental,idiot,malas belajar atau tidak mau belajar. Akan tetapi memang mereka mengalami kesulitan dan keterlambatan dalam proses belajar membaca,menulis maupun bertutur.

****

Menjelang siang, di aula SMA BAKTI MULYA 400 sedang kedatangan sekolah tinggi penerbangan yang ingin mengenalkan sekolah mereka kepada murid SMA yang duduk di kelas XII, devan yang memang memiliki cita – cita ingin menjadi pilot pun ikut masuk ke aula untuk mendengarkan sosialisasinya.
“Nah adik – adik bagaimana ada yang tertarik untuk melanjutkan ke sekolah penerbangan setelah lulus SMA” kata salah satu pilot di dalam ruangan itu
“Saya kapten” ucap devan lantang
Semua murid di dalam sana pun seketika tertawa setelah mendengarkan perkataan devan tadi
“hei dev kamu tuh gak usah mimpi deh buat bisa masuk sekolah penerbangan loe ngak bakalan sanggup karena nilai rata rata ujian loe nanti pasti ngak bakalan memenuhi persyaratan “ ucap salah satu murid di di dalam sana
Semua pun kembali tertawa karena penuturan seorang murid tadi, mereka semua berpendapat bahwa devan yang terkenal bodoh itu tidak mungkin bisa lolos masuk sekolah penerbangan.
“sudah-sudah kita semua tidak boleh meremehkan impian dan cita-cita seseorang, karena setiap orang itu berhak untuk bermimpi dan mengejar cita-cita mereka masing-masing, kita sebagai teman devan seharusnya mendukung dia bukan malah mengucilkan dia seperti ini. Aku yakin dengan kerja keras dan doa devan pasti bisa keterima masuk sekolah penernbangan” ujar gadis berambut pendek tersebut
Setelah mendengarkan perkataan gadis berambut pendek tadi semuanya pun hanya mengendus kesal kepada gadis tadi dan mereka semua pun bubar meninggalkan aula dan masuk ke kelas masing-masing.
Dari situlah harapan baru muncul dalam diri devan, ia semakin yakin kalau dia pasti bisa masuk sekolah penerbangan dengan kerja kerasnya sendiri.

***
Didalam kamar devan pun tengah membaca brosur sekolah penerbangan tadi sambil duduk santai di atas kasurnya.
“wah biaya pendaftarannya mahal juga, tabungan ku pun masih belum cukup untuk bisa membayarnya, ya Allah berikan devan petunjuk “ ucap devan penuh harap
Ke esokan harinya setelah pulang sekolah ia pun mampir ke bengkel untuk menambal ban sepedanya yang bocor, tiba-tiba ia melihat bahwa bengkel tersebut sedang mencari seorang kariawan baru. Setelah mencoba melamar pekerjaan tersebut akhirnya ia pun di terima bekerja di bengkel.
Setiap sesudah pulang sekolah devan pun pergi ke bengkel untuk bekerja dan pulang kerumah setelah sore menjelang, kebiasaannya pulang sekolah sore pun di tanyakan oleh sang ayah.
“kenapa akhir-akhir ini ayah lihat kamu sering pulang sekolah sore” tanya ayahnya
“devan ada pelajaran tambahan yah” ucap devan berbohong
“maaf yah bukannya aku tidak ingin jujur sama ayah hanya saja aku ingin memberikan kejutan kepada ayah nanti kalau aku bisa masuk sekolah penerbangan dan bisa membuat ayah bangga sama aku “ ucap devan dalam hati.

****

Beberapa bulan kemudian....................
Setelah mengikuti segala tes dan melengkapi persyaratan yang ada akhirnya devan diterima masuk sekolah penerbangan dan mendapatkan beasiswa untuk sekolah penerbangan di amerika serikat untuk 2 tahun ke depan, setelah mendapatkan berita bahagia tersebut devan pun ingin segera memberitahu kabar gembira tersebut kepada ayahnya setelah sampai di rumah nanti. Namun sewaktu di perjalanan pulang devan pun mengalami kecelakaan dan segera dilarikan ke rumah sakit medika untuk ditindak  lanjuti.
“dok bagaimana keadaan anak saya??” tanya ayah devan dengan rasa khawatir
“tenang pa, luka pada anak bapak  tidak terlalu serius hanya saja keaadan pasien sekarang sedikit tidak baik mungkin akhir akhir ini  dia terlalu memaksakan diri dalam proses pembelajarannya,tapi bapak tidak perlu khawatir karna penyakit disleksia yang anak bapak derita sekarang bisa cepat diobati dengan cara terapi” kata dokter menjelaskan
“apa dok anak saya menderita penyakit disleksia” tanya ayah devan terkejut
“iya anak bapak memang mengindap penyakit tersebut” jawab dokter
Bagaikan disambar petir ayah devan pun langsung berlari menghampiri kamar devan dan mendapatkan sang anak tengah terpaku lemah di atas ranjang rumah sakit.
“dev maafkan ayah nak selama ini sudah jahat sama kamu, bahkan ayah sendiri tidak tahu seberapa menderitanya kamu karena sikap ayah yang selalu kasar sama kamu, maafkan ayah dev” ucap ayah devan sambil menggenggam tangan devan
“ayah ngak perlu minta maaf karena devan sama sekali ngak perah benci sama ayah, oh iya ayah ini aku mau nunjukin sesuatu sama ayah” jawab devan lemah sambil memberikan sebuah surat kepada ayahnya
“ini, kamu “ tanya ayah devan terbata-bata
“aku keterima masuk sekolah penerbangan yah dan aku juga dapat beasiswa untuk lanjut sekolah penerbangan di Amerika yah” kata devan dengan devan
“selamat yah nak ayah sangat bangga sama kamu dan maaf sekali lagi karena dulu ayah sempat meragukan kemampuan mu nak”
“udah ah ayah minta maaf terus lagian aku sudah melupakan semuanya kok yah, bagaimana apakah ayah mengizinkan ku untuk melanjutkan sekolah penerbangan di Amerika” tanya devan
“pasti nak, ayah akan selalu dukung semua apa yang kamu lakukan dan ayah akan selalu mendoakan supaya kamu sukses dan nantinya bisa pulang lagi ke Indonesia sebagai pilot yang hebat”
“amin....pokok nya aku janji sama ayah kalau aku pasti bisa jadi pilot yang hebat lagi pula jadi pilotkan sudah jadi cita-cita ku sejak kecil untuk bisa menembus awan dilangit sana”

****
Setelah 2 tahun lebih menempuh pendidikan pilot di sekolah penerbangan di Amerika akhirnya Devan lulus sebagai pilot dengan nilai rata-rata tertingi dan setelah itu devan kembali lagi ke Indonesia dan bekerja di sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan di Jakarta.

Selesai.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar