Menembus Awan
Karya : Rina Eriyanti
Entahlah, seharusnya kehidupan ini kita serahkan pada takdir. Takdir tak selalu sama dengan apa yang kita impikan. Terkadang jauh dari keinginan dan membuat kita jatuh ke dalam lubang penderitaan. Sudah banyak mengalami nasib tragedi yang memeras air mata, seperti yang terjadi pada diri Devan seorang anak pengidap penyakit Disleksia yang selalu dianggap bodoh oleh semua orang bahkan oleh ayahnya sendiri pun.
Bagi ayahnya devan itu bodoh karena nilai nilai nya tak pernah bisa
menandingi nilai davin sang adik kembar. Walaupun sang ayah selalu keras
dalam mendidiknya tapi tak pernah terbesit dihati davin untuk membenci sang
ayah, bagaimanapun ia sudah berjanji dengan almarhumah ibunya untuk tidak
pernah melawan ayahnya.
“assalamu alaikum “ ucap
devan pelan
“waalaikum salam, dari
mana saja kamu sudah malam begini baru pulang” ucap ayahnya
“aku habis dari rumah
teman pa” jawab davin seadanya
“ya sudah kamu cepat
ganti baju setelah itu kita makan malam”
“iya pah”
Setelah sang ayah
pergi,devan pun menongok ke belakang
“bahkan ayah tidak
menanyakan bagaimana hasil nilai uts semesterku, berbeda ketika ayah dengan
davin ia selalu begitu antusias melihat nilai davin”
***
Ketika aku sampai di meja makan aku menyerahkan nilai rapot uts semesterku kepada
ayah namun ayah hanya menengoknya sebentar kemudian berpaling melihat nilai
rapot uts semester davin dengan penuh rasa bangga.
“ayah kali ini aku
mendapat nilai yang lumayan bagus, walaupun rata-rata 7 tapi kali ini tidak ada
nilai merah dirapot ku” kata devan berhati-hati
“memang biasanya
begitukan nilai nilai mu tak pernah bisa dibangggakan, seharusnya kamu itu
harus rajin belajar supaya nilai mu bisa seperti davin yang bisa mendapatkan
nilai sempurna hampir disemua mata pelajaran” ucap ayah nya
“iya yah aku akan
berusaha keras” ucap davin
“davin ayah sudah
mencarikan kamu universitas yang bagus untuk kamu, nanti kamu tinggal pilih
universitas mana yang mau kamu ambil” ucap ayah sambil tersenyum
“terima kasih yah” kata
davin
“dan untuk kamu devan
ayah ngak tahu lagi harus seperti apa sama kamu, kalau kamu masih berkeinginan
unyuk kuliah ayah harap kamu bisa mengubah nilai nilai kamu seperti davin Kalau
tidak jangan harap ayah mau menguliahkan kamu, mengerti “
“mengerti ayah” kata
devan
****
“kenapa kamu belum bisa
juga menerapkan apa yang ayah sudah ajarkan
devan, sudah seminggu ayah mengajarkan mu membaca tapi kamu belum bisa juga selancar adik kamu. Kamu ini
dengar tidak apa yang ayah katakan” ucap ayah nya sambil berteriak
“iya ayah, aku sudah
berusaha tapi aku tetap tidak bisa “ ucap devan kecil terbata-bata sambil
menangis
“bahkan berbicara pun
kamu masih sangat lamban” kata ayahnya kasar
Devan kecil hanya bisa
menunduk tanpa berani menatap sang ayah.
“dengar ya devan kalau
kamu masih belum bisa menyelesaikan bacaan ini jangan harap ayah mau mengajak
kamu pergi dufan weekend nanti, sudah sana kekamar selesaikan buku cerita yang
ayah kasih semalam”
Devan kecil pun hanya bisa menangis mengingat kejadian yang tadi dimana
sang ayah memarahinya hanya karena ia belum bisa menamatkan buku bacaannya
tersebut, sungguh tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan dan penderitaan yang
devan alami dalam menghabiskan buku
bacaan tersebut disaat malam hari ketika semua orang tengah terlelap dalam tidur,
Devan terus berusaha membaca buku tersebut namun nihil ia masih saja sulit
untuk mengingat dan mengeja kata per kata dalam buku tersebut sehingga sering
membuatnya muntah bahkan pingsan dimalam hari.
Tidak ada satu pun keluarga nya yang menyadari bahwa devan sebenarnya tidak
bodoh akan tetapi ia mengidap penyakit Disleksia yang membuat ia lamban dalam
membaca,menulis maupun berbicara. Devan sendiri pun baru mengetahuinya ketika
ia sedang melakukan tes kesehatan masuk sekolah menengah pertama namun ia hanya
memendamnya sendiri.
Anak penderita Disleksia bukanlah karena keterbelakangan mental,idiot,malas
belajar atau tidak mau belajar. Akan tetapi memang mereka mengalami kesulitan
dan keterlambatan dalam proses belajar membaca,menulis maupun bertutur.
****
Menjelang siang, di aula SMA BAKTI MULYA 400 sedang kedatangan sekolah
tinggi penerbangan yang ingin mengenalkan sekolah mereka kepada murid SMA yang
duduk di kelas XII, devan yang memang memiliki cita – cita ingin menjadi pilot
pun ikut masuk ke aula untuk mendengarkan sosialisasinya.
“Nah adik – adik bagaimana ada yang tertarik untuk melanjutkan ke sekolah
penerbangan setelah lulus SMA” kata salah satu pilot di dalam ruangan itu
“Saya kapten” ucap devan lantang
Semua murid di dalam sana pun seketika tertawa setelah mendengarkan
perkataan devan tadi
“hei dev kamu tuh gak usah mimpi deh buat bisa masuk sekolah penerbangan
loe ngak bakalan sanggup karena nilai rata rata ujian loe nanti pasti ngak
bakalan memenuhi persyaratan “ ucap salah satu murid di di dalam sana
Semua pun kembali tertawa karena penuturan seorang murid tadi, mereka semua
berpendapat bahwa devan yang terkenal bodoh itu tidak mungkin bisa lolos masuk
sekolah penerbangan.
“sudah-sudah kita semua tidak boleh meremehkan impian dan cita-cita
seseorang, karena setiap orang itu berhak untuk bermimpi dan mengejar cita-cita
mereka masing-masing, kita sebagai teman devan seharusnya mendukung dia bukan
malah mengucilkan dia seperti ini. Aku yakin dengan kerja keras dan doa devan
pasti bisa keterima masuk sekolah penernbangan” ujar gadis berambut pendek
tersebut
Setelah mendengarkan perkataan gadis berambut pendek tadi semuanya pun
hanya mengendus kesal kepada gadis tadi dan mereka semua pun bubar meninggalkan
aula dan masuk ke kelas masing-masing.
Dari situlah harapan baru muncul dalam diri devan, ia semakin yakin kalau
dia pasti bisa masuk sekolah penerbangan dengan kerja kerasnya sendiri.
***
Didalam kamar devan pun tengah membaca brosur sekolah penerbangan tadi
sambil duduk santai di atas kasurnya.
“wah biaya
pendaftarannya mahal juga, tabungan ku pun masih belum cukup untuk bisa
membayarnya, ya Allah berikan devan petunjuk “ ucap devan penuh harap
Ke esokan harinya setelah pulang sekolah ia pun mampir ke bengkel untuk
menambal ban sepedanya yang bocor, tiba-tiba ia melihat bahwa bengkel tersebut
sedang mencari seorang kariawan baru. Setelah mencoba melamar pekerjaan
tersebut akhirnya ia pun di terima bekerja di bengkel.
Setiap sesudah pulang sekolah devan pun pergi ke bengkel untuk bekerja dan
pulang kerumah setelah sore menjelang, kebiasaannya pulang sekolah sore pun di
tanyakan oleh sang ayah.
“kenapa akhir-akhir ini
ayah lihat kamu sering pulang sekolah sore” tanya ayahnya
“devan ada pelajaran tambahan
yah” ucap devan berbohong
“maaf yah bukannya aku
tidak ingin jujur sama ayah hanya saja aku ingin memberikan kejutan kepada ayah
nanti kalau aku bisa masuk sekolah penerbangan dan bisa membuat ayah bangga
sama aku “ ucap devan dalam hati.
****
Beberapa bulan
kemudian....................
Setelah mengikuti segala tes dan melengkapi persyaratan yang ada akhirnya
devan diterima masuk sekolah penerbangan dan mendapatkan beasiswa untuk sekolah
penerbangan di amerika serikat untuk 2 tahun ke depan, setelah mendapatkan
berita bahagia tersebut devan pun ingin segera memberitahu kabar gembira
tersebut kepada ayahnya setelah sampai di rumah nanti. Namun sewaktu di
perjalanan pulang devan pun mengalami kecelakaan dan segera dilarikan ke rumah
sakit medika untuk ditindak lanjuti.
“dok bagaimana keadaan
anak saya??” tanya ayah devan dengan rasa khawatir
“tenang pa, luka pada
anak bapak tidak terlalu serius hanya
saja keaadan pasien sekarang sedikit tidak baik mungkin akhir akhir ini dia terlalu memaksakan diri dalam proses
pembelajarannya,tapi bapak tidak perlu khawatir karna penyakit disleksia yang
anak bapak derita sekarang bisa cepat diobati dengan cara terapi” kata dokter
menjelaskan
“apa dok anak saya
menderita penyakit disleksia” tanya ayah devan terkejut
“iya anak bapak memang
mengindap penyakit tersebut” jawab dokter
Bagaikan disambar petir
ayah devan pun langsung berlari menghampiri kamar devan dan mendapatkan sang
anak tengah terpaku lemah di atas ranjang rumah sakit.
“dev maafkan ayah nak
selama ini sudah jahat sama kamu, bahkan ayah sendiri tidak tahu seberapa
menderitanya kamu karena sikap ayah yang selalu kasar sama kamu, maafkan ayah
dev” ucap ayah devan sambil menggenggam tangan devan
“ayah ngak perlu minta
maaf karena devan sama sekali ngak perah benci sama ayah, oh iya ayah ini aku
mau nunjukin sesuatu sama ayah” jawab devan lemah sambil memberikan sebuah
surat kepada ayahnya
“ini, kamu “ tanya ayah
devan terbata-bata
“aku keterima masuk sekolah
penerbangan yah dan aku juga dapat beasiswa untuk lanjut sekolah penerbangan di
Amerika yah” kata devan dengan devan
“selamat yah nak ayah
sangat bangga sama kamu dan maaf sekali lagi karena dulu ayah sempat meragukan
kemampuan mu nak”
“udah ah ayah minta maaf
terus lagian aku sudah melupakan semuanya kok yah, bagaimana apakah ayah
mengizinkan ku untuk melanjutkan sekolah penerbangan di Amerika” tanya devan
“pasti nak, ayah akan
selalu dukung semua apa yang kamu lakukan dan ayah akan selalu mendoakan supaya
kamu sukses dan nantinya bisa pulang lagi ke Indonesia sebagai pilot yang
hebat”
“amin....pokok nya aku
janji sama ayah kalau aku pasti bisa jadi pilot yang hebat lagi pula jadi
pilotkan sudah jadi cita-cita ku sejak kecil untuk bisa menembus awan dilangit
sana”
****
Setelah 2 tahun lebih menempuh pendidikan pilot di sekolah penerbangan di
Amerika akhirnya Devan lulus sebagai pilot dengan nilai rata-rata tertingi dan
setelah itu devan kembali lagi ke Indonesia dan bekerja di sebagai pilot di
salah satu maskapai penerbangan di Jakarta.
Selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar